Kamis, 20 Desember 2012

SUBJEK PENELITIAN


SUBJEK PENELITIAN
A.     PENGERTIAN SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian menurut Amirin (1986) merupakan seseorang atau sesuatu mengenai yang mengenainya ingin diperoleh keterangan.  Menurut Suharsimi Arikonto (1989) memberi batasan subjek penelitian sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat, dan yang dipermasalahkan. Dalam sebuah penelitian, subjek penelitian memiliki peran yang sangat strategis karena pada subjek penelitian, itulah data tentang variabel yang penelitian akan amati.  Kesimpulan dari kedua penngertian diatas Subjek penelitian adalah individu, benda, atau organismeyang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian.
Pada penelitian kualitatif, responden atu subjek penelitian disebut dengan istilah informan, yaitu orang memberi informasi tentang data yang diinginkan peneliti baerkaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakannya. atau dapat pula disebut sebagai subjek penelitian atau responden (kuantitatif).

B.     PENENTUAN SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian kualitatif, pemilihan subjek penelitian dapat menggunakan criterion-based selection (Muhajir, 1993), yang didasarkan pada asumsibahwa subjek tersebut sebagai aktor dalam tema penelitian yang diajukan. Selain itu dalam penentuan informan, dapat digunakan model snow ball sampling. Metode ini digunakan untuk memperluas subjek penelitian. Hal lain yang harus diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif, kuantitas subjek bukanlah hal utama sehingga pemilihan informan lebih didasari pada kualitas informasi yang terkait dengan tema penelitian yang diajukan.
Berbeda dengan penelitian kuantitaif  pada kegiatan pengumpulan data mutlak dilakukan terlebih dahulu dibandingkan kegiatan analisis data, sedangkan dalam desain kuantitatif, kedua kegiatan ini bisa saling mengisidan sejalan, meski juga dapat dilakukan secara terpisah. Dalam penelitian kuantitatif , penentuan memang sudah sejak awal dilakukan sejak awal, yaitu saat peneliti mulai membuat rancangan penelitian (proposal penelitian). Dalam proses dilapangan, untuk menentukan siapa yang akan dikenai perlakuan (treatment), akan digunakan teknik sampling yang sesuai dengan kondisi subjek dan lebih penting lagi dapat menjadi wakil populasi yang akan digeneralisasikan.
C.       POPULASI DAN SAMPEL
Penentuan subjek penelitian dapat dilakukan dengan cara populasi atau sampel. Cara populasi dilakukan apabila pengambilan subjek penelitian meliputi keseluruhan populasi yang ada. Sementara itu, cara sampel adalah pengambilan subjek penelitian dengan cara menggunakan sebagian dari populasi yang ada.
Penelitian kulitatif, biasanya tidak pernah menggunakan sampel (cuplikan) sebagai subjek penelitiannya karena dalam penelitian kualitatif, jumlah subjek yang menjadi informannya biasanya relatif lebih sedikit dibangdingkan dengan penelitian kuatitatif. Meski demikian, untuk menetukan informan ini, si penelliti kualitatif harus memiliki kriteria terrtentu yang dapat memperkuat alasan pemilihan seseorang untuk menjadi subjek penelitiannya. Inilah mengapa dalam penelitian kualitatif kerap mempergunakan tteknik purposive sebagai cara untuk menentukan subjek penelitiannya.

D.     UKURAN SAMPEL PENELITIAN
Sebelum menentukan sampel penelitian, terlebih dahulu harus diketahui ciri-ciri atau karakteristik populasi penelitian itu sendiri. Tentu semakin banyak karakteristik yang ada pada populasi penelitian, maka semakin terfokus subjeknya dan sampel yang akan diambil akan semakin banyak untuk dapat mewakili karakteristik yang banyak tersebut. Begitu sebaliknya. Misalnya, untuk identifikasi yang dapat dilakukan peneliti, peneliti menemukan beberapa ciri dari poppulasinya, seperti adanya perjenjangan (pangkat), karakteristik jenis kelamin, bidang pekerjaan, asal pendidikan, asal tempat tinggal, dan pengalaman pekerjaan. Banyaknya kelompok sebagai sebuah populasi harus dapat terwakili oleh sampel yang akan diambil sehingga jumlah sampel harus bangyak untuk mewakili kelompok tersebut. Bandingkan jika kita ingin mengambil sampel darah, sampelnya tidak perlu banyak karena adanya tingkat homogenitas yang tinggi dengan karakteristik yang sedikit.
Hal ini berkebalikan dengan karakteristik yang melekat pada subjek yang ditetappkan peneliti, yaitu kriteria subjek. Maksudnya peniti sejak awal telah menentukan beberapa kriteria tentang subjek. Adanya kriteria ini akan menjadi unit analisis semakin kecil dan terfokus sehingga akan menyebabkan jumlah sampel yang akan diambil juga dapat semakin sedikit.
Beberapa hal yang harus dijadikan pertimbangan sebelum peneliti menetukan besarnya sampel yaitu :


1.             Unit Analisis
Merupakan satuan subjek yang akan dijadikan populasi penelitian atau yang akan dianalisis. Misalnya siswa, sekolah, guru atau karyawan, tergantung kepada siapa data tersebut akan diambil. Semakin banyak atau semakin besar unit analisis, maka akan semakin banyak pula subjek yang harus dijadikan sebagai sampel dalam penelitian. Peneliti seharusnya dapat mengenali secara cermata mengenai apa atau siapa yang menjadi unit analisisnya sehingga peneliti akan dapat secra tepat menentukan jumlah sampel yang harus diambilnya.
2.             Pendekatan atau Model Penelitian
Untuk menentukan apakah subjek penelitiannya dengan skala populasi atau sampel, harus dilihat jumlah populasi yang ada, serta jenis penelitian yang digunakan. Seandainya jumlah individu kurang dari seratus, biasanya dilakukan penelitian populasi. Selain pada banyaknya subjek, penentuan jumlah subjek dalam penelitian juga mempertimbangkan pendejatan atau model penelitian.
Pada penelitian kuantitatif, jumlah subjek akan mempengaruhi penarikan simpulan. Konsep tersebut pada akhirnya juga menjadi pertimbangan dalam penentuan jumklah subjek. Artinya dalam penelitian kuantitatif jumlah subjek yang ditelitinya jelas akan banyak. Dengan begitu, berbeda pendekatan penelitian akan dengan sendirinya mempengaruhi banyaknya subjek yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian.
3.      Banyanknya Karakteristik Khusus (Ciri Utama) Populasi
Semakin banyak karakteristik yang ada pada populasi,  maka akan semakin banyak pula subjek yang dibutuhkan sebagai sampel penelitian. Hal ini karena semakin banyak ciri khusus populasi menandakan semakin heterrogennya suatu populasi tersebut. Jika semakin heterogewn, sudah tentu semakin banyak subjek yang akan diguunakan  sebagai sampel agar terpenuhi kriteria representatif. Terkait dengan sisi homogen dan heterogenitas ini, dalam penelitian  kuantitaif akan diuji homogenitas yang dimaksudkan untuk mengetahui homogen atau tidaknya subjek. Uji homogenitas ini penting mengingat ada beberapa tekhnik  analisis statistik yang mempersyaratkan data yang diperoleh harus homogen.
4.      Keterbatasan Peneliti
Untuk menentukan berapa banyak sampel yang harus diambil, hendaknya pula diperhatikan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti. Banyaknya keterbatasan ini harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan jumlah sampel yang harus diambil. Jika peneliti mengalami keterbatasan dalam hal waktu, dana, serta tenaga, sebaiknya jumlah sampel yang diambil tidak terlalu banyak, tetapi juga jangan terlalu sedikit (moderat). Hanya saja perlu juga dipahami bahwa keterbatasan ini tidak serta merta dijadikan sebagai alasan untuk mengambil sampel dalam jumlah sedikit.
5.      Teknik Sampling
Penentuan sampel populasi penelitian tidak dapat begitu saja dilakukan. Peneliti harus melalui prosedur penentuan sampel dengan menggunakan teknik-teknik sampel tertentu. Beberapa teknik sampling adalah sebagai berikut :
a.      Cluster Sampling (Sampling Kelompok)
Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok yang mempunyai ciri-ciri sendiri. Ciri-ciri tersebut dapat berupa pekerjaan subjek, jenis kelamin, kelompok sosial, yang tidak ada menunjukan adanya tingkatan antar kelompok. Seperti kelompok PNS, kelompok petani sebagai kelompok khusus pekerjaan.
b.      Stratified Sampling
Merupakan sampling berstrata atau bertingkat biasanya digunakan apabila terdapat kelompok-kelompok subjek, yang diantara kelompok satu dengan kelompok lainnya, ada tingkatan yang membedakan. Misal siswa kelas I, II, ataupun III.
c.       Purposive Sampling
Teknik sampling yang digunakan peneliti jika memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya. Misal, seorang peneliti ingin meneliti ada tidaknya perbedaan motivasi antara siswa dari etnis Jawa dan Cina. Mengingat subjeknya telah ditentukan sejak awal, peneliti hanya akan menjadikan siswa yang berasal dari dua etnis tersebut sebagai subjek penelitiannya. Siswa dengan etnis berbeda, meskipun dalam satu unit analisis (sekolah), tidak dapat dijadikan sebagai subjek penelitian.
d.      Area Sampling
Jika sampel diambil dengan mempertimbangkan wilayah-wilayah tertentu, teknik area sampling (sampling daerah atau wilayah) merupakn teknik yang tepat untuyk digunakan. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk mengambil anggota sampel dengan memprtimbangkan wakil-wakil dari daerah geografis yang ada, misalnya, Kabupaten Sleman 20 orang, Kabupaten Gunumg Kidul 15, dan seterusnya.
e.       Double Sampling
Double Sampling (sampling kembar), yaitu sebuah tenik samplingyang mengharuskan peneliti mangambil sampel sejumlah dua kali ukuran sampel yang ditentukan, misalnya yang ditentukan 50 orang, peneliti mengambil 100 orang. pengambilan ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga seandainya salah satu kelompok mengalami kekurangan.
f.        Quota Sampling
Teknik ini digunakan jika peneliti terlebih dahulu menetukan berapa banyak jumlah subjek yang diinginkan untuk diambil dalam penelitiannya. Penentuan jumlah subjek ini lebih dikarenakan peneliti banyak mengalami keterbatasan sehingga yang bersangkutan menetukan sejumlah subjek untuk dijadikan responden dalam penelitiannya.
g.      Incidental Sampling
Ini terjadi karena terkadang peneliti pemula merasa kebingungan untuk menetukan siapa yang sebaiknya dijadikan subjek dalam penelitiannya, sehingga setelah berhasil mengidentifikasi unit analisisnya, peneliti langsung memberikan skala/instrument/angket kepada subjek yang berada di unit analisisnya, tanpa terlebih dahulu mmengetahui secra pasti kondisi subjek tersebut. Kelemahan teknik ini adalah belum tentu mereka yang berada di unit analisis tersebut sebab mungkin saja subjek yang berda di unit analisis tersebut adalah orang yang hanya sekedar lewat saja.
h.      Proportional Sampling
Proportional Sampling (sampel seimbang), yaitu teknik pengambilan sampel dengan berdasarkan pertimbangan jumlah masing-masing kelompok subjek. Biasanya teknik ini dikombinasikan dengan teknik lain, yang berhubungan dengan populasi yang tidak homogen dan tidak sama jumlahnya.
i.        Random Sampling
Random sapling (sampling acak/rambang) digunakan oleh peneliti apabila populasi diasumsikan homogen (mengandung satu ciri) Sehingga sampel dapat diambil secara acak. Dalam random sampling, setiap subjek mempunai peluang yang sama untuk dijadikan sampel penelitian. Teknik sampling secra acak dapat dilakukan dengan cara berikut.
1.  Sampling acak sederhana (simple random sampling), yaitu penetuan sampel dengan cara melakukian  undian terhadap populasi.
2. Sampling acak beraturan, yaitu dalam hal ini peneliti mengambil sampel dari nomor-nomor subjek dengan jarak yang sama yang telah ditentukan sebelumnya.
3. Sampel acak dengan bilangan random. Dalam hal ini peneliti menentukan sampel berdasarkan pada bilanganrandom.

j.        Snow Ball Sampling
Yaitu dari jumlah subjek yang sedikit, semakin lama berkembang semakin banyak. Dengan teknik ini, jumlah informan yang akan menjadi subjeknya akan terus bertambah sesuai kebutuhan dan terpenuhinya informasi.
k.      Multi Stage Sampling
Teknik ini merupakan teknik kombinasi beberapa teknik sampling yang ada. Dengan teknik ini, peneliti akan lebih mudah memperoleh datadari subjek yang diingingkan. Kombinasi teknik sampling ini juga terkait dengan kondisi populasinya, sehingga akan tepat untuk menjaring subjek penelitian.



Daftar Pustaka: 
Idrus, Muhammad, (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar